Mendongkrak Citra Melalui Lesson Study Berbasis Sekolah

<!–suaraguru2–>

Oleh Drs Achmad Lutfi MPd
Ketua Jurusan Kimia FMIPA Unesa, Asesor Sertifikasi Guru Rayon 14

ABSTRAK
Tuntutan masyarakat saat ini adalah pendidikan yang bermutu, sekolah dituntut memperbaiki atau meningkatkan pencitraan publik sehingga masyarakat yakin bahwa sekolah tersebut layak menjadi pilihan putra-putrinya. Lesson study dengan karakteristiknya nampaknya dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut sehingga pencitraan publik sekolah meningkat.

Memang Lesson Study banyak menekankan pada pembelajaran di kelas namun dampak kegiatan ini bisa pada aspek yang lain misal: peningkatan sarana pembelajaran, inovasi sekolah, perubahan visi dan misi sekolah, motivasi guru dan pimpinan sekolah, serta muncul aktivitas ektra kurikuler dan lain-lain.

Lesson study berbasis sekolah yang dilakukan secara rutin akan muncul inovasi pada sekolah sehingga dapat digunakan sebagai upaya memperbaiki citra publik sekolah, kegiatan bisa berlangsung dengan baik perlu adanya komitmen kepala sekolah dan kemauan guru untuk memperbaiki diri. (Kata kunci: lesson study berbasis sekolah, citra sekolah).

Pendahuluan
Masyarakat sudah mulai cerdas dalam memilih sekolah, tidak hanya berdasar besar-kecilnya beaya sekolah, juga tidak hanya memilih sekolah negeri atau swasta, juga tidak hanya memilih sekolah dikenal banyak orang atau tidak, tetapi banyak kreteria yang menjadi dasar untuk menentukan pilihan.

Belum lagi tuntutan dari beberapa dinas pendidikan yang mensyaratkan batas minimal suatu sekolah memperoleh siswa tiap tahun ajaran, maka menuntut sekolah memperbaiki atau meningkatkan pencitraan publik sehingga masyarakat yakin bahwa sekolah tersebut layak menjadi pilihan putra-putrinya. Semuanya itu bermaksud untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dan hal ini sesuatu yang wajar.

Sering ditemui sekolah tidak dapat memenuhi tuntutan masyarakat (orang tua atau diknas) sehingga ada sekolah swasta atau negeri harus pergabung (mager) dengan sekolah lain atau tutup dengan sendirinya karena tidak ada siswa yang mendaftar. Sejumlah SMA swasta mengeluh, jumlah siswa pendaftar menurun padahal lulusan jumlah SMP bertambah. Sebaliknya ada sekolah yang baru berdiri namun pendaftar telah melampaui pagu yang ditentukan. Fenomena tersebut tidak hanya di kota provensi namun sudah merambah kota/kabupaten.

Pemerintah melalui beberapa dinas pendidikan kota/kabupaten sudah ada upaya meningkatkan kemampuan guru antara lain melalui pendidikan dan pelatihan, Continue Education (CE), workshop dll. Yayasan juga ada yang telah melakukan pelatihan guru, namun nampaknya kegiatan-kegatan tersebut masih terbatas pada saat-saat pelatihan, diklat, workshop belum sampai pada penerapan di sekolah, padahal di sekolah (kelas) itulah seharusnya perubahan harus dilakukan bukan hanya pada saat pelatihan atau sejenisnya.
Sekolah sering sibuk dan bingung bila telah memasuki masa akreditasi sekolah, sekolah sibuk atau bingung menjelang ujian nasional dan lebih bingung lagi bila sekolah tersebut tidak ada siswa yang mendaftar.

Lesson study dengan karakteristiknya nampaknya dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut sehingga pencitraan publik sekolah meningkat. Memang Lesson Study banyak menekankan pada pembelajaran di kelas namun dampak kegiatan ini bisa pada aspek yang lain misal: peningkatan sarana pembelajaran, inovasi sekolah, perubahan visi dan misi sekolah, motivasi guru dan pimpinan sekolah, serta muncul aktivitas ektra kurikuler dll.

Mengenal Lesson Study?
Lesson study adalah model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Gambar bawah memperlihatkan tahapan pelaksanaan pengkajian pembelajaran melalui kegiatan lesson study.
Pelaksanaan pengkajian pembelajaran melalui kegiatan lesson study dilakukan dalam siklus-siklus kegiatan yang tiap siklusnya terdiri dari 3 tahapan (Plan, Do, See).

Tahap pertama, Plan, membuat perencanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa secara kolaboratif. Tahap kedua, DO, menerapkan rencana pembelajaran di kelas oleh seorang guru sementara guru lain mengamati aktifitas siswa dalam pembelajaran. Tahapan ketiga, SEE, diskusi pasca pembelajaran untuk merefleksikan efektifitas pembelajaran yang dilaksanakan langsung setelah pembelajaran selesai.

Hasil refleksi merupakan masukan untuk perencanaan pada siklus berikutnya agar pembelajaran lebih baik dari siklus sebelumnya. Setiap tahapan pengkajian pembelajaran harus dilaksanakan secara kolaboratif dan tidak pernah berakhir melakukan perbaikan pembelajaran.

Pengetahuan materi ajar maupun keterampilan guru membelajarkan siswa dibangun dalam komunitas belajar melalui sharing pendapat di antara anggota komunitas dengan lebih menekankan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. Dosen bisa saja berada dalam komunitas belajar diantara guru-guru, akan tetapi dosen tidak perlu merasa superior dan tidak perlu menceramahi guru-guru.

Dosen sebagai nara sumber memang perlu mengkoreksi kesalahan konsep-konsep melalui sharing pendapat yang didukung fakta yang benar secara santun dan bijak sehingga semua anggota komunitas belajar merasa nyaman.

Lesson study memberi kesempatan nyata kepada para guru menyaksikan pembelajaran (teaching) dan pemelajaran atau proses belajar siswa (learning) di ruang kelas. Lesson study membimbing guru untuk memfokuskan diskusi-diskusi mereka pada perencanaan, pelaksanaan, observasi/pengamatan, dan refleksi pada praktik pembelajaran di kelas.

Dengan menyaksikan praktik pembelajaran yang sebenarnya di ruang kelas, guru-guru dapat mengembangkan pemahaman atau gambaran yang sama tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran efektif, yang pada gilirannya dapat membantu siswa memahami apa yang sedang mereka pelajari.

Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnya Jugyokenkyu, adalah proses pengembangan profesi inti yang dipraktikkan guru-guru di Jepang agar secara berkelanjutan mereka dapat memperbaiki mutu pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran. Praktik ini mempunyai sejarah panjang, dan secara signifikan telah membantu perbaikan dalam pembelajaran (teaching) dan pemelajaran/proses belajar (learning) siswa dalam kelas, juga dalam pengembangan kurikulum. Banyak guru sekolah dasar dan sekolah menengah di Jepang menyatakan bahwa lesson study merupakan salah satu pendekatan pengembangan profesi penting yang telah membantu mereka tumbuh berkembang sebagai profesional sepanjang karer mereka (Yoshida 1999).

Guru-guru Jepang menyelenggarakan lesson study dalam berbagai bentuk dan cara. Lesson study dilaksanakan sebagai bagian dari pengembangan profesi berbasis sekolah yang dikenal dengan nama Konaikenshu dan diselenggarakan menurut kelompok sekolah atau kelompok mata pelajaran. Lesson study juga dapat dilaksanakan antar sekolah. Di Jepang kegiatan lesson study dilaksanakan menurut wilayah (seperti, kecamatan, kabupaten, dsb.), kelompok guru (misalnya, kelompok guru mata pelajaran di sekolah dan kelompok). Lesson study juga menjadi bagian dari pendidikan guru di tahun pertama mereka bertugas, serta sebagai bagian dari kegiatan asosiasi maupun institusi pendidikan

Karakteristik unik yang lain dari lesson study adalah bahwa lesson study menjaga agar siswa selalu menjadi detak jantung kegiatan pengembangan profesi guru. Lesson study memberi kesempatan pada guru untuk dengan cermat meneliti proses belajar serta pemahaman siswa dengan cara mengamati dan mendiskusikan praktik pembelajaran di kelas. Kesempatan ini juga memperkuat peran guru sebagai peneliti di dalam kelas. Guru membuat hipotesis (misalnya, jika kami mengajar dengan cara tertentu, anak-anak akan belajar) dan mengujinya di dalam kelas bersama siswanya. Kemudian guru mengumpul-kan data ketika melakukan pengamatan terhadap siswa selama berlangsungnya pelajaran dan menentukan apakah hipotesis itu terbukti atau tidak di kelas.

Ciri lain dari lesson study adalah bahwa ia merupakan pengembangan profesi yang dimotori guru. Melalui lesson study, guru dapat secara aktif terlibat dalam proses perubahan pembelajaran dan pengembangan kurikulum.

Selain itu, kolaborasi dapat membantu mengurangi isolasi di antara sesama guru dan mengembangkan pemahaman bersama tentang bagaimana secara sistematik dan konsisten memperbaiki proses pembelajaran dan proses belajar di sekolah secara keseluruhan.

Selain itu, lesson study merupakan bentuk penelitian yang memungkinkan guru-guru mengambil peran sentral sebagai peneliti praktik kelas mereka sendiri dan menjadi pemikir dan peneliti yang otonom tentang pembelajaran (teaching) dan pemelajaran atau proses belajar siswa (learning) di ruang kelas sepanjang hidupnya.

Inovasi Sekolah
Kegiatan lesson study berbasis sekolah dilaksanakan oleh sekolah dengan melibatkan seluruh guru sekolah tersebut tidak membedakan matapelajaran yang diampuh. Bila kegiatan ini dapat berlangsung secara rutin dan berkelanjutan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi antara pimpinan sekolah dan guru terutama pada saat refleksi. Saat itulah akan muncul ide-ide untuk menyelesaikan masalah atau memperbaiki sekolah, lalu ditindak lanjuti dengan program yang khusus untuk memecahkan masalah tersebut. Setidaknya ada forum kumunikasi antar pimpinan dan guru atas masalah yang ada di sekolah, walaupun bermula dari masalah pembelajaran di kelas.

Ada suatu SMP swasta di Surabaya mencoba melakukan open lesson, dalam RPP direncanakan menggunakan media LCD proyektor dan Laptop maka saat itu pinjam ke lembaga lain. Hasil refleksi memperlihatkan hasil yang membuat siswa lebih tertarik dalam pembelajaran, maka muncul program dari SMP itu agar tahun depan memiliki LCD dan Laptop tersebut.

Pernah ditemui sebuah SMA Gresik, mencoba melakukan open lesson dan disertai pengambilan gambar baik saat plan, do dan see juga penampilan sekolah secara utuh. Ketika dilakukan video confrence muncul ungkapan bahwa papan nama sekolah dan “wajah” sekolah terlihat kusam. Maka secara bertahap direncanakan pengecatan papan nama dan gedung sekolah bagian muka.

Ditemui juga suatu sekolah dengan melakukan kegiatan plan, do, dan see disertai pengarsipan dan dokumentasi selama kegiatan antara lain: RPP saat open lesson, media yang digunakan, foto-foto selama kegiatan, dan video. Barang-barang tersebut dapat digunakan sebagai bahan pameran sekolah baik di luar sekolah maupun di sekolah saat pengundang orang tua siswa. Gambar-gambar tersebut juga dipasang pada leflet untuk promosi sekolah dalam menyongsong tahun ajaran baru.

Sebuah SMA di Malang dan SMP di Sumedang menjadi tempat kunjungan sekolah lain karena sudah cukup lama menerapkan lesson study berbasis sekolah. Peringkat sekolah tersebut juga meningkat berdasarkan rata-rata nilai UAN-nya.

Pada contoh di atas memperlihatkan bahwa dengan mengadakan kegiatan lesson study semua hal yang menyertai lesson study mulai plan, do dan hingga see dapat memberikan dampak atau memberikan gambaran sejauh mana sekolah tersebut melakukan inovasi.

Sekelumit contoh di atas bukan berarti tidak ada hambatan dalam memulai kegiatan lesson study. Pernah ditemui suatu sekolah dikenalkan model pembinaan guru melalui lesson study, dilakukan open lesson dengan pendampingan dari LPTK. Kegiatan ini tidak berlangsung lama lantaran kepala sekolah tidak penah hadir dalam tahapan-tahapan lesson study. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen kepala sekolah sangat menentukan terlaksananya kegiatan lesson study.

Pengalaman lain juga pernah ditemui, kegiatan lesson study di suatu sekolah dengan inisiatif LPTK untuk dicobakan. Kegiatan tersebut hanya berlangsung tidak terlalu lama karena peserta yang hadir hanya 3-4 orang dan selalu berganti-ganti. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan lesson study perlu pemahaman dan kemauan dari kepala sekolah dan guru bahwa tidak ada kesempurnaan seseorang dalam melakukan pembelajaran di kelas. Nampak belum dipahami bahwa sebaik-baik pembelajaran pasti ada celah kekurangannya.

Kesimpulan
Lesson study berbasis sekolah yang dilakukan secara rutin akan muncul inovasi pada sekolah sehingga dapat digunakan sebagai upaya memperbaiki citra publik sekolah, kegiatan bisa berlangsung dengan baik perlu adanya komitmen kepala sekolah dan kemauan guru untuk memperbaiki diri. (Email: lutfisurabaya10@yahoo.co.id).

Daftar Pustaka

  • Lutfi, Achmad. 2007. Lesson Study Sebagai Model Pembinaan Guru Kimia. (Makalah Seminar Nasional Kimia). Surabaya: Unesa.
  • Sumar Hendayana, et.al. (2006). Lesson Study: Pengalaman IMSTEP-JICA. Bandung UPI Press.
  • Widhiartha, Putu Ashintya. Dwi Sudarmanto. Nining Ratnasingsih. 2008. Lesson Study Sebuah Upaya Peningkatan Mutu Pendidik Pendidikan Non Formal. Surabaya: Prima Printing.
  • Yusak, Muchlas. 2008. Lesson Study: Pengembangan Profesi Guru Secara Berkelanjutan Berbasis Sekolah. Semarang: LPMP Jawa Tengah.

diambil dari :

http://suaraguru.wordpress.com/2009/01/16/mendongkrak-citra-melalui-lesson-study-berbasis-sekolah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s